Koleksi Bayu Ahmad Dianto, 13 Juli 2009
Kulayangkan pandangku
Melalui keheningan-keheningan jiwa
Jiwaku yang telah lelah,jiwaku yang telah layu...............
Dalam meresapi ketiadapastian yang menunggu
Angin berhembus sepi menyadarkan aku
Apalah arti dalam pencarian ini
Pencarian yang tiada usai dalam pengembaraan
Jiwa ini ingin bebas kesana kemari
Bagaiku burung merpati
Ingin ku mengarungi kehidupan yang luas
Kudapati ku disini
Dengan sayap-sayap di jiwa
Mampukah diri ini terbang dan bertahan
Melewati kesepian di hati
Walau aral rintangan semakin menyelimuti
Asa dalam pesona indahnya hati
Mendongkrak , mengalahkan lelapnya
Yang tak terobati
Senin, 13 Juli 2009
Senin, 06 Juli 2009
Tanpa Judul
by Bayu AD
Aku masih terhanyut
Dalam pengembaraan di sahara
Sahara luas alam renunganku
Dan ku termenung seorang diri
Tanpa suara,tanpa perasaan
yang menggugah hati
Angin berhembus sepi........
Angin melantunkan suara hati........
Angin bawalah jiwaku melayang
Untuk mencari cinta yang hilang
Cinta yang nantinya
Bisa kubawa kedalam angan-anganku
Dan sampai kubisa kubawa kedalam matiku
Aku masih terhanyut
Dalam pengembaraan di sahara
Sahara luas alam renunganku
Dan ku termenung seorang diri
Tanpa suara,tanpa perasaan
yang menggugah hati
Angin berhembus sepi........
Angin melantunkan suara hati........
Angin bawalah jiwaku melayang
Untuk mencari cinta yang hilang
Cinta yang nantinya
Bisa kubawa kedalam angan-anganku
Dan sampai kubisa kubawa kedalam matiku
Rabu, 01 Juli 2009
Perempuan di Ambang Subuh
Rabu 1 Juli 2009 jam 6:19 by Faradina Izdhihary
Ketika subuh masih berpeluk di rahim malam
perempuan itu memutuskan lari
dari mimpinya.
Irama percikan air
membasahi wajah, tangan, kaki, juga hatinya.
Sambil menunggu subuh turun padanya
ia lantunkan tembang-tembang suci
dan gending-gending yang ia cipta
menggetarkan dinding alam.
Betapa pucuk nyiur tersungkur
kelabang di tanah menggelepar
tergetar orkestra hati yang begitu jujur.
Lalu subuh menjemputnya begitu mesra
dia sambut dengan dua pelukan di awalnya
singkat saja ia bacakan sajak-sajak cintanya.
Dalam subuh ia mendoa
sebagai penghambaan atas cinta
tak ada satu pembandingnya
ketika ia larut dalam doa-doa
subuh menjelmakannya
menjadi begitu perkasa.
Sebelum subuh menceraikan gelap
ia bergerak
pada tukang sayur dan ikan
kemudian meramunya sebagai sajian cinta
dapurnya menghangat
sepenuh dadanya.
Perempuan yang menyapa dunia
pada ambang subuh
lihatlah,betapa senyum menetes di bibirnya
adalah doa-doa
seindah harapan
memancar sejuk dalam tatapannya.
Ketika subuh masih berpeluk di rahim malam
perempuan itu memutuskan lari
dari mimpinya.
Irama percikan air
membasahi wajah, tangan, kaki, juga hatinya.
Sambil menunggu subuh turun padanya
ia lantunkan tembang-tembang suci
dan gending-gending yang ia cipta
menggetarkan dinding alam.
Betapa pucuk nyiur tersungkur
kelabang di tanah menggelepar
tergetar orkestra hati yang begitu jujur.
Lalu subuh menjemputnya begitu mesra
dia sambut dengan dua pelukan di awalnya
singkat saja ia bacakan sajak-sajak cintanya.
Dalam subuh ia mendoa
sebagai penghambaan atas cinta
tak ada satu pembandingnya
ketika ia larut dalam doa-doa
subuh menjelmakannya
menjadi begitu perkasa.
Sebelum subuh menceraikan gelap
ia bergerak
pada tukang sayur dan ikan
kemudian meramunya sebagai sajian cinta
dapurnya menghangat
sepenuh dadanya.
Perempuan yang menyapa dunia
pada ambang subuh
lihatlah,betapa senyum menetes di bibirnya
adalah doa-doa
seindah harapan
memancar sejuk dalam tatapannya.
Label:
irama,
kekayaan alam,
perempuan,
subuh
Langganan:
Komentar (Atom)





