Rabu, 01 Juli 2009

Perempuan di Ambang Subuh

Rabu 1 Juli 2009 jam 6:19 by Faradina Izdhihary

Ketika subuh masih berpeluk di rahim malam
perempuan itu memutuskan lari
dari mimpinya.
Irama percikan air
membasahi wajah, tangan, kaki, juga hatinya.

Sambil menunggu subuh turun padanya
ia lantunkan tembang-tembang suci
dan gending-gending yang ia cipta
menggetarkan dinding alam.
Betapa pucuk nyiur tersungkur
kelabang di tanah menggelepar
tergetar orkestra hati yang begitu jujur.

Lalu subuh menjemputnya begitu mesra
dia sambut dengan dua pelukan di awalnya
singkat saja ia bacakan sajak-sajak cintanya.
Dalam subuh ia mendoa
sebagai penghambaan atas cinta
tak ada satu pembandingnya
ketika ia larut dalam doa-doa
subuh menjelmakannya
menjadi begitu perkasa.

Sebelum subuh menceraikan gelap
ia bergerak
pada tukang sayur dan ikan
kemudian meramunya sebagai sajian cinta
dapurnya menghangat
sepenuh dadanya.

Perempuan yang menyapa dunia
pada ambang subuh
lihatlah,betapa senyum menetes di bibirnya
adalah doa-doa
seindah harapan
memancar sejuk dalam tatapannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar