03 Juni 2009 jam 12:53
by Salahuddien Gz
bersama seekor anjing yang ia banggakan,
seorang pengarang memburu keabadian.
namun keabadian slalu lincah menghindar
dari terjang taring cakarnya di rimba tulisan.
berkali-kali si anjing menyalak matahari dan bintang,
“tlah kuterkam ia dengan kuku-kukuku tajam!”
tetapi waktu senantiasa menyingkap pelan-pelan,
yang ia tangkap hanya sebangkai ular.
ketika si anjing mati keletihan pada suatu malam,
sang pengarang mundur dari perburuan,
langkahnya gontai menapak guanya yang remang.
seketika keabadian muncul dalam wujud tak terkatakan.
melalui mulut yang ia pinjam dari sang pengarang,
keabadian berkata padanya dalam bahasa gema,
“hei anakku, tiada kuasa kau memburu sang naga.
kemarilah, relakan dirimu masuki mulutku.
biar aku sendiri yang berkata lewat serpih-serpih
tubuhmu yang remuk di lambungku.
lalu kabarkan pada dunia sedikit saja.
sedikit saja."
Langganan:
Posting Komentar (Atom)






Tidak ada komentar:
Posting Komentar