Kamis, 18 Juni 2009

Surga dan Neraka

Catatan Masa Lalu Salahuddien Gz

Kamis 18 Juni 2009 jam 16:26
: Lamongan, 9 Juli 1999

Neraka itu lautan api, dengan batu-batu dan manusia sebagai bahan bakarnya, penuh ular, duri, dan cairan timah membara. Orang-orang Islam meyakininya seperti itu, maka jadilah neraka seperti itu. Lalu mereka jadi takut memasukinya. Surga itu taman indah seluas langit dan bumi, penuh bidadari cantik di dalamnya, makan minum tanpa kenyang, bercinta tanpa pernah loyo. Orang-orang Islam meyakini surga seperti itu, maka jadilah surga seperti itu. Mereka jadi ingin memasukinya.

Jika surga seluas langit dan bumi, di manakah letak neraka?

Kalau begitu, apa beda surga dan neraka dengan kehidupan dunia jika yang berbeda hanya kesangatan rasa (dalam suka dan duka)? Bukankah kenikmatan dan kesengsaraan itu sudah ada di dunia? Jika penderitaan neraka tak bisa terkatakan pedihnya, apa makna api, cairan timah, ular berbisa, dan duri bagi para pendosa? Jika kenikmatan surga tak terkatakan indahnya, apa makna susu, madu, bidadari cantik, dan sebagainya? Apa pula makna takut dan ingin jika keduanya adalah hasrat, dan Adam menjadi berdosa karena hasrat ingin berada dan mengaku berada?

Pengetahuan Tuhan melampaui keinginan dan ketakutan manusia. Ketakutan dan keinginan manusia menjadi ambigu bahkan bertentangan di dalam-Nya. Jika aku tidak mau masuk neraka dan ingin masuk surga, sedang pengetahuan Tuhan tentang diriku berbanding terbalik dengan keinginanku, bukankah takut dan ingin menjadi tidak bermakna? Usaha mengabdi hanyalah sejati bila kita ingin mendekati pengetahuan-Nya. Hamba yang baik adalah hamba yang siap menerima keputusan-Nya. Keputusan adalah pengetahuan-Nya. Manusia menjadi ada karena hasrat-Nya.

Jika tubuhku ini diseret ke neraka karena keinginan-Nya, bukankah tak tahu sopan santun membantah keputusan-Nya? Orang-orang kafir itu jika disiksa di neraka akan menolak kehendak-Nya. Mereka hanya peduli pada api, bukan pada yang memberi api. Bukankah orang kafir itu menolak kebenaran? Bukankah penolakan kehendak Tuhan, tapi tak kuasa itu, persis seperti ketika mereka menganggap liang neraka membara pada vagina wanita yang diperkosanya sebagai surga? Inginnya tak sejalan dengan ingin-Nya.

O, Tuhanku, kasihku satu. Sudah kau suruh daku berpuasa menahan syahwat, berperang dalam derita dan mematikan nafsu. Pantaskah diri memimpikan surga yang begitu telanjang menegangkan zakar itu?

Sayangku di tanah jauh, kau tebarkan api sepanjang jejakmu. Karena cinta saja, kutapaki langkahmu, terbakar daku sepanjang langkahku. Mampukah api membakar diriku yang juga api, tersulut cinta yang dinyalakan-Nya?

Surga dan neraka tak ada artinya kalau belum sampai padammu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar